raga terseok
terlunta melangkah
memanggul serpihan jiwa
satu nama tertinggal
rapuhku terbawa
dalam debur ombak kenangan
tangis lirih meraba
jangan siksa aku cinta
raga terseok
terlunta melangkah
memanggul serpihan jiwa
satu nama tertinggal
rapuhku terbawa
dalam debur ombak kenangan
tangis lirih meraba
jangan siksa aku cinta
dentam-dentam kepala
bagai genderang perang
tulang-tulang berderak
kakiku tak lagi mau melangkah
lihat saja
ranjang kematian tersenyum padaku
membuai menungguku datang
membuang semua keyakinanku
bahwa hidup memang semu
atau aku yang tak mau tahu ??
mari menari
diiringi hentak tetes hujan
mari menari denganku
gerakkan semua ragamu
bebaskan jiwamu
mari menari hingga nanti
lupakan mereka yang menyakiti
biarkan mereka mencaci
kita nikmati dunia kita sendiri
mari menari bersamaku
dalam deras hujan di bumi
*http://www.kemudian.com/darkness_devil_girl/puisi/entah/menari*
lihat warna ini ibu
warna yang jatuh ke bumi
saat kulukai nadi
merah seperti milikmu
sentuh hangatnya
cium aromanya
lihat warna ini ibu
masih kah engkau ragu ?
untuk sekedar memelukku
mengakuiku sebagai darah dagingmu
kebencian atau keangkuhankah
yang membuatmu mengacuhkanku
membiarkanku disini menunggu
hingga kutoreh luka ditanganku
lihat merah ini ibu
* http://www.kemudian.com/darkness_devil_girl/puisi/entah/merah*
tetes terjatuh
dari kedua penglihatan
mengalir menjadi telaga kecil
kata-kata tak lagi tertumpah
sungguh aku lelah
ribuan kali kukatakan
aku sendiri pun bosan
tetap memaksa kaki melangkah
dalam penat coba bertahan
daun pun berguguran tinggalkan pepohonan
ombak bersatu dala debar laut
debu entah terbuai angin hingga kemana
langkah ini semakin berat
letih tak terobati
harus kemana lagi kini
the visitors