Paket itu datang hari ini, “paket aroma”, Ia menyebutnya. Paket itu datang tepat ketika Ia akan pergi, namun Ia tetap saja ingin membuka paket itu terlebih dahulu. Diurungkannya niat untuk pergi, ia sudah tak sabar lagi. Ia tahu siapa pengirimnya. Dengan tak sabar dibukanya bungkusan yang berwarna putih itu, tercium aroma yang sangat Ia kenal. Aroma Dia.
Ia terduduk, memandangi bungkusan yang telah Ia buka, diciumnya selembar kain yang Dia kirimkan. “Sekedar pemuas dahaga” katanya waktu itu, penghapus rindu jika Ia sendiri. Namun tetap saja, Ia masih merindukan Dia, sama besar seperti sebelum aroma datang. Lebih bahkan, karena kini aroma mengikutinya kemana pun ia pergi. Dan memang, Ia tak mau aroma pergi.
Aroma mengikutinya kemanapun ia pergi, dijaganya aroma seperti menjaga hatinya sendiri. Bagaimanapun, hanya aroma yang menemaninya kini. Setelah Dia pergi, menuju kebahagiannya sendiri. Bagi Ia, tak lagi penting dengan siapa Dia kini, Ia hanya mengharapkan Dia bahagia, biarlah Ia hanya bersama aroma. Yang tersisa dari Dia.
Ia pernah membaca sebuah buku, tentang pembunuhan yang dilakukan, demi mendapatkan aroma. Namun Ia bukan pembunuh, meski Ia tergila-gila pada aroma. Ia takkan sanggup membunuh Dia, bahkan hanya untuk melukai hatinya. Ia hanya menginginkan aroma, untuk menggantikan Dia.
Aroma mengingatkan Ia pada Dia. Pada malam-malam panas yang mereka lewati bersama, pada terik siang yang membakar mereka. Aroma, bukan sekedar aroma. Ia bisa saja membeli aroma dalam botol, namun aroma Dia bercampur peluh, bercampur panas matahari, debu, asap. Suatu kompleksitas yang tak bisa Ia dapatkan dimanapun. Ia menyukai aroma peluh dan parfum yang tercampur milik Dia, Ia senang menghirup panas matahari yang tercium di kulit Dia.
Bagai pecandu, Ia terus menghirup aroma. Ia menggali ingatannya, ingatan saat bertemu Dia. Dalam 7 bulan kebersamaan mereka, Dia telah mengambil milik Ia, seluruhnya. Waktu, hati, jiwa, raga telah Ia berikan pada Dia. Tanpa mengharap apapun, karena Ia tahu, Dia bukan miliknya. Seperti Ia harus berbagi oksigen, Ia pun harus membagi Dia. Meski Ia tahu, hati Dia miliknya.Meski Ia tahu, Dia pun mencintainya. Meski Ia tahu, mereka sama-sama memuja.
Ia merindukan Dia, merindukan tarian raga mereka, merindukan penyatuan jiwa mereka. Merindukan saat Dia terbaring disisinya, merindukan saat Ia membuka mata dan Dia dipeluknya, tersenyum. Dan mereka memulai pagi hari dengan tarian primitif, tarian raga yang tak memerlukan nada, tarian jiwa yang kasat mata. Dia, takkan Ia lupa. Ia memujanya, seperti Dia memuja raganya. Raga yang bagi Ia adalah kutukan, namun keindahan bagi Dia. Raga yang hanya Ia persembahkan untuk Dia. Dan saat Ia menghirup aroma, bayangan itu muncul dengan jelas.
“saat memandangmu, seperti mendengar gesekan biola
menyentuhmu, bagai mendengar denting piano
bercinta denganmu, bukan sekedar menyatukan raga
harmoninya membuai jiwa
sungguh simfoni terindah tentang cinta”
Ia tak pernah merasa begitu bahagia, bersama Dia, Ia merasa utuh. Berdekatan dengan Dia bagaikan pematik dan api. Ia adalah api, yang berkobar, menyala, menghangatkan Dia. Sedangkan Dia adalah pematik, penyulut rasa dan hasratnya. Tanpa Dia, ia mati. Tak berkobar, atau bahkan membakar.
Meskipun pengkhianatan kecil pernah Ia lakukan, pengkhianatan yang selalu Dia ingat. Pengkhianatan yang Ia sendiripun tak menemukan alasannya. Ia terlalu mencintai Dia, Ia telah menyerahkan semua pada Dia. Hingga Ia pun dihadapkan pada ketakutannya sendiri, ketakutan kehilangan Dia, ketakutan kehilangan dirinya sendiri. Namun pengkhianatan, tetap saja tak terhapuskan.
Malam-malam terakhir mereka tak kan Ia lupakan, perbincangan mereka hingga dini hari, masih dapat Ia ingat. Pujian- pujian yang sering terlontar, kecemburuan yang tersimpan, kenangan tak terlupakan, mengusir kantuk mereka, membuat mereka terjaga, hanya untuk luapkan rindu yang mendalam. Rindu yang entah kapan tersalurkan, meski Ia tahu kerinduannya pada Dia tak kan pernah terpuaskan. Meskipun Ia menyadari, hasrat yang Ia rasa untuk Dia takkan pernah mati. “Entah bagaimana menahan rindu ku padamu, bagaimana menyembuhkan rasa ini..” kata Dia, “suatu hari, kamu pasti melupakanku, menghapusku” jawab Ia. “untuk melupakanmu, tak mungkin kulakukan, karen aku pun tak berniat melupakanmu. Biarlah cinta ini, sebagian tetap jadi milikmu”.
Kini Ia hanya memiliki aroma, berharap aroma dapat menguatkan bayangan Dia, berharap aroma mengusir sunyinya. Berharap aroma menguatkannya, membantunya melewati detik waktu, hingga Ia benar-benar dapat mengirup aroma asli. Aroma yang ada pada Dia, bukan selembar kain yang ada ditangan Ia.
“tiap bulan, saat purnama tiba, dimanapun kamu berada, lihatlah keatas sana” pinta Ia, “selama aku mampu, pasti akan kulihat purnama itu, meskipun hanya sesaat. Setidaknya kamu tahu, aku mengingatmu ” jawab Dia. Dan kini Ia hanya menunggu purnama tiba.
“aku mencintaimu” kata Ia suatu waktu ” dan amat sangat menyayangimu”. Dia pun mengatakan hal yang sama padanya.
“andai bisa kupisahkan hati dari raga
kan kusimpan ia dalam kotak kaca
biarlah raga tak lagi nyata
karena degup cinta menyiksa jiwa
saat kekasih tak mungkin lagi bersama
atau kusimpan hati dalam sebuah bejana
kupendam dalam-dalam bersama akar bumi
agar rindu teredam sunyi
atau kan kuberi saja ia padamu
biar degupnya temani sunyimu
biar kehangatannya menghalau dinginmu
biar hatiku dekat padamu”
Kata Ia pada Dia, dan Dia pun berkata
“semoga cinta kita tidak terbatas ruang dan waktu..
semoga akan tetap indah dan abadi..
meskipun aku hanya bisa mencintaimu dalam hati dengan diam-diam..”
Ia menghela nafasnya, berusaha menghirup aroma lebih dalam, menangkap bayangan Dia, memuaskan kerinduan yang tak berujung. Bersama aroma, Ia menari dengan sunyi, bersama aroma, Ia bercinta dengan hampa. Bersama aroma, dimasukinya mimpi tentang Dia. Bersama aroma, dibunuhnya waktu, menunggu purnama tiba.
Ia tak lagi peduli pada dunia diluar sana, baginya kini hanya ada Ia dan aroma. Ia tak lagi mampu melihat dunia, hanya secarik kain, dimana aroma tertinggal. Ia tak lagi membaui sekitarnya, hanya aroma yang melayang-layang didekat hidungnya. Ia dan aroma tak lagi terpisahkan. Sama seperti Ia dan Dia, yang hatinya tak bisa terpisahkan.
“baru kali ini kualami siksa cinta, pedihnya rindu
ah, entahlah..
rasanya kalau bisa, aku ingin memecah diriku menjadi partikel-partikel atom yang bisa terbawa angin dan terbang menujumu..
membelai lembut dirimu
mengecup hangat bibirmu…”
Dan saat malam tiba, Ia pun terlelap bersama aroma, layaknya jiwa-jiwa yang pasti mati, Ia menyambut kematiannya, bersama aroma. Bagi Ia kini, hanya ada Ia dan aroma.
the visitors